Posterous theme by Cory Watilo

Can I Just Get My Five Minutes?

I'm so happy you called 
I really needed a break 
From all the people I see 
All the people I spend time with 
Where did my summer go? 
The week that was canceled 
Was my only chance 
To get out of this place 
So how have you been? 
I heard about your problem 
At the end of this road 
A common solution 
My favourite thing about you 
Please don't get me wrong 
How natural it feels 
Five Minutes without talking 
Five Minutes without talking

(The Whitest Boy Alive - All Ears)

Beauties And Ugliness

Image

Sebenarnya gambar ini adalah penggalan aja. Inti sebenarnya dari pembicaraan saya dengan teman saya bukanlah tentang cakep dan ga punya pacar. Dia cuma lagi berusaha bashing tentang pernyataan "God makes people beautiful" tapi pake line of reasoning yang tolol dan ga reliable. But that's another case.

Yang mau gue bahas disini adalah karena kata-kata tadi itu bikin gue mikir, bahwa di dunia ini memang ada orang-orang shallow yang punya pikiran seperti itu. Kalau gitu, kasian banget yah orang-orang jelek? Oke, I can accept that the fact people physically divided into 2 types, ugly and pretty. That's not shallow. Karena kenyataannya memang begitu. Tapi once you judge people by their appearance, ketika itu pula lah lo menurunkan derajat otak lo sendiri ke urutan bagian bawah di bawah urutan otak primata yang paling bego. Ga peduli IQ lo yang sebenarnya berapa. Okelah muka si, umm sebut saja Jono, ini physically jeleknya aduhai luar biasa. Tapi apa pantas dia dinilai buruk hanya karena wajahnya jelek? I tell you what, I would date a guy like Jono, kalau dia ternyata humble, punya selera musik dan film yang bagus, selalu punya bahan omongan yang ga bikin dia terlihat tolol, dan dandanan yang manusiawi. Tampang dia jelek, terus kenapa? I don't give any shit about that.

Gue sendiri pun ga mengkategorikan diri gue as a pretty one. Gue jelek kok. Item, gendut, sinis, suka marah-marah, banyak lah. Tapi terus kenapa? I don't give any shit about my appearance. Let say, mata gue ga kompak, terus gue punya pitak 3 biji, tai lalat berbulu tepat di pipi kanan, gigi maju sampe bibir ga bisa nutup, pokoknya bener-bener ga enak diliat deh sampai orang-orangpun ga ada yang mau punya pasangan hidup kaya gue dan gue sampai tua tetap hidup sendiri. Asal gue tetap diberi kemampuan berpikir seperti yang gue punya sekarang, I don't mind with that. Gue lebih bersyukur kalau gue punya kemampuan berpikir daripada wajah cantik rupawan tapi cuma bisa mikir ga lebih dari kemampuan seekor keledai yang paling tolol di spesiesnya. Gue bahagia karena gue bisa denger musik-musik keren, nonton film-film bagus, mampu berdiskusi dengan orang-orang yang punya pemikiran jenius, jalan-jalan ke tempat-tempat eksotis.. Tampang jelek dan ga punya pacar? Fucking cares with that.

So for the ugly people out there, I'll tell you something. Iya lo jelek, terus kenapa? Kalau lo tau lo jelek, jangan tambahin beban hidup lo being overact dengan dandanan tidak manusiawi macamnya anak muda konyol jaman sekarang. Udahlah, terima aja muka jelek lo dengan berdandan biasa layaknya manusia normal. Plus, banyak belajar. Apapun. Sekali lo pinter, orang-orang ga akan mandang lo rendah. Selama lo ga overconfidence sama diri lo, ada gue lah satu orang yang ga akan menilai lo rendah, walaupun semua orang di dunia ini nantinya turn into shallow.

Salah satu temen gue pernah bilang sesuatu ke gue. Sambil lewat sih. Dia bilang, "Kalau lo cantik, lo punya privilege buat jadi bego". Oh. Oke. Lo aja deh, gue engga.

It Was Always Started With a Random Thought..

I'm actually talking about this. Haha I dunno, akhir-akhir ini gue random banget. Like, totally. Suddenly I was thinking about atheist, phobia, naik haji, and all other things. Yeaa, that is my kind of problem, me and my random thoughts. And speaking about atheist, I um sort of have friends, which apparently an atheist. Dari hasil random thought itu, gue akhirnya ngobrol banyak dengan salah satunya tentang apa dan bagaimana atheist itu. Well I'm not gonna share it here, since I'm not the one who judge, dan lagipula kayanya masih agak taboo yah membicarakan hal ini di media umum, salah salah ntar gue malah dikira atheist lagi hehe. Oh, pemikiran ini sebenarnya tidak diinspirasi sedikitpun oleh kasus atheist yang terjadi sekarang. Gue cuma penasaran tentang apa-apa yang ada dipikiran temen-temen gue yang akhirnya memiilih untuk menjadi atheist.

What I do want to share is, the moment that I had before. Gue sangat amat sangat suka sama typical smart person. No, I'm not talking about the academically. I just love people who knows everything what they capable of. Simple things aja, kaya musik, film, bahkan cuma sekedar tim sepakbola, komik, atau game. Sesuatu yang engga gue punya. Karena gue cuma penyuka abal-abal yang suka banyak hal tapi ga terlalu dalam mempelajari seluk-beluknya. 

Gue suka sama orang-orang yang knowledgeable akan sesuatu. Contohnya adalah pembicaraan gue sama temen gue tentang atheist tadi sore itu. Temen gue ini typical pemikir dan pintar berargumen. Kalau diserang, dia bisa menjawab dengan segala macam referensi dan data statistik untuk memperkuat argumennya. Tapi kalau ditanya santai, dia juga bisa menjawab tanpa menjudge. Dan pada saat diskusi tadi itu, jawaban-jawaban dia ga bikin misleading. Makanya gue seneng banget.

Dan dari situ pula gue menganggap gue mengambil keputusan yang tepat dengan menjadi penyuka abal-abal. Karena gue selalu berfikir, by the time lo mulai mempelajari sesuatu terlalu dalam, lo akan cenderung menjadi lebih penasaran dan lebih penasaran lagi, dan menyebabkan lo menjadi terus mencari dan mencari sampai akhirnya lo bisa menjadi fanatik dan mulai skeptis dengan yang lainnya. I do question things. Tapi gue juga selalu memilih untuk menjadi bodoh dengan tidak mempelajari lebih dalam tentang sesuatu tersebut. Menjadi bodoh inilah yang menurut gue masih membuat gue tetap memiliki sanity. Gue sadar betul bahwa gue masih dalam tahap yang sangat amat sangat fragile untuk turn into something yang gue sendiri belum tau itu apa. But until then, I will try to keep on this stage.

By the way, do you guys know about liberal and deism? 

Philophobia

Means a phobia, for having a fear of falling in love or being loved. I never realized that the word even exist until I found this in some random psychologic site. It makes me think, that I might have a chance to have this kind of um disease. A bit scary uh? Can you guys just believe that? Monster mata bawang macam gue yang selalu tebar-tebar caring sana-sini gak ke cewek gak ke cowok sebenarnya malah afraid for being loved? Hahaha. I dunno man, I just always thought that I don't have any of those girlfriend-material-thingy. I don't do make-ups. I look shitty in my most everyday. I get cynical in almost everything. And also, I get used to do everything on my own. Something that you boys can get freaked about, true? 

Dulu sempet pernah muncul hashtag #cewekbanget di Twitter, dan banyak dari isinya yang um enggak gue banget. Atau karena emang gue bukan cewek? Hahaha. For example, kalau cewek suka bilang "Ih, yang ini lucu deh.." artinya itu minta dibeliin. Hahaha. What the hell. Gue ga suka minta beliin apa-apa sama pacar-pacar gue (anjis, berasa banyak yah pacar lo, Fan!). Kalaupun pernah, biasanya hal-hal gak penting kaya kue ape, jajanan anak SD, atau permen gulali. Itu aja gue udah seneng luar biasa kayanya. Terus gue juga jarang minta anter sana-sini, gue juga jarang menye-menye gelendotan sayang-sayangan apalah itu, dan satu lagi, gue jarang cemburuan. Because I have this fucking-high-pride-problem. I know it's lame. Gue sendiri kadang suka bete sama sifat gue yang ini. Gue terlalu sombong, gengsian, congkak, pongah, apalah itu namanya. I have this high fucking wall made by thick brick that won't allowed anybody to break into easily. 

According to that non-girlfriend-material, gue gak percaya ada cowok yang bisa purely in love with me. Suka, mungkin iya. Tapi bukan itu yang gue cari. I'm too old for those crush-kind-of-thingy. Dan karena ketidakpercayaan itulah, gue suka melakukan hal-hal bodoh yang um sebagian dari orang-orang yang pernah deket sama gue pasti tau. Yes. I get disappeared. Bukan, bukan karena itu bentuk penolakan atau apa. Tapi lebih ke karena, um I need some times to figure all the things that happen and what exactly I feel about you or you guys feel about me. I'm cutting off the phone, text, email, or every other connection. For quite a time. Does it ring you guys any bell? Yes. That. 

Dan biasanya, um, mereka udah punya pacar ketika gue eventually back. Hahaha. Miris memang. Ya gue juga sih yang salah. Berpikir kalau semua orang harus stuck sama gue selamanya. Egois kan? Iya, memang, I am that fuckin biatch.

The thing is, relationship breaks. Oh iya, betul, gue banyak melihat contoh happy-married-couple yang hidupnya baik-baik aja in my daily life. Gak usah jauh-jauhlah, nyokap-bokap gue contohnya. They're married for almost 35 years now. Dan gue sempet-sempetnya pernah nanya ke nyokap gue weather was she ever get bored with my dad. Anak durhaka memang gue. Tapi tetep aja bayangin breaks nya itu lebih berat di gue. 

And the other thing is, I always thought that I don't have that "special thing" that will ever make any man get fall for me like my dad have to my mom. I don't trust you, people. I know it really sounds that I make the things bigger than its real, but that's what I felt. I'm not playing people's feeling. The only heart that being fool is mine. Gue tau, mungkin beberapa orang bisa berpendapat, padahal apa susahnya sih tinggal pacaran, dan kalaupun nanti putus, biarlah itu jadi bagian cerita hidup lo. But the problem is, I don't need that kind story. 

Tapi entahlah. Mungkin ini hanya one of my middle-age crisis aja. That sooner or later will be vanished and get laughed by the time I looked it back. I dunno. Such is life, full of mystery..

Define: Difference (part 2)

Kadang gue kalau terlalu sedih, takut, putus asa, atau ga tau lagi harus bagaimana dengan hidup gue, gue pasti lari ke Tuhan dan nyerahin semuanya ke Dia. Jadi kalau dipikir-pikir, being an atheist itu sebenarnya berani juga yah? Maksud gue, ketika lo udah memutuskan untuk menjadi atheist, berarti lo juga harus siap dengan konsekuensi bahwa lo harus menghadapi semuanya sendiri. Iya ga? Ga kaya gue, kalau gue takut gue bisa mulai merapal "mantra-mantra" yang bisa memberikan gue sugesti untuk menjadi berani. Atau ketika gue merasakan sedih atau marah yang luar biasa gue bisa mulai melakukan "ritual" yang bisa memberikan gue sugesti untuk menjadi lebih tenang dan see all things in a bigger picture. Those that you can't do if you do not believe in God existence, iya ga?

Gue sih ga pernah masalahin tentang keyakinan. Menurut gue, percaya dengan adanya Tuhan itu sama kaya lo ngerasain jatuh cinta sama pasangan lo. Lo ga akan percaya kalau lo ga ngerasain. Kenapa lo bisa percaya kalau Tuhan itu ada padahal lo ga bisa liat Dia? Kemana Dia waktu kita semua terkena bencana? Atau liat deh itu anak-anak yang kelaperan di Afrika, maksudnya apa sih menciptakan itu semua? Oke. Gue emang ga bisa menjelaskan, karena otak gue kayanya ga nyampe buat kasih argumen cemerlang dan jenius buat ngejawab itu semua. Tapi here's my lil perspective. Gue percaya all things happens with its own reason. Mungkin gue emang ga bisa liat kalau Dia ada, tapi gue bisa ngerasain kehadiranNya di setiap detik hidup yang gue jalanin. Dan tentang bencana dan semua hal-hal buruk yang terjadi di luar sana, gue sih cuma bisa berpikir kalau hal-hal yang kaya gitu itu justru ada untuk membuat diri kita berguna. Ada bencana di sekitar lo, kalau lo punya otak, lo pasti mikir dong, kira-kira lo bisa apa yah buat ngebantu mereka. Even the poorest and the lamest person pun bisa saling memberi bantuan. That is why God create the rich and the poor. Baik itu buat harta atau kebaikan hati. Gue sih mikirnya bahwa ya itu tantangan buat kita untuk membuat semuanya balance. Coba kalau semuanya diciptakan sama rata, garing abis kan hidup lo?

Dijodohin kadang mungkin berhasil. Tapi akan lebih baik lagi kalau kita menemukan cinta kita sendiri. Sama aja kaya agama. That is why, gue bisa berfikir kalau perjodohan itu bisa terjadi karena orang tua kita belum percaya dengan pilihan kita sendiri, atau karena kitanya emang ga bisa ngedapetin sendiri. Sama kaya waktu orang tua kita mengajarkan agama yang mereka anut waktu kita kecil dulu karena mereka tau, pada saat itu kita belum bisa memutuskan mana agama yang benar menurut kita. Kalau emang cocok, ya diterusin, sama kaya gue sekarang. Kalau ngerasa ga cocok, ya orang tua juga harus menerima pilihan anaknya dong. Kalau itu bisa membuat dia bahagia, kenapa engga? Iya ga? Nah atheist ini adalah orang-orang yang kecewa atas perjodohannya karena menganggap semua orang ga ada yang cukup baik buat dia dan lebih memilih hidup sendiri.

That is also why, gue ga percaya kalau celebrating other religion bisa merusak kepercayaan kita terhadap agama yang kita anut. Kecuali kalau lo tipe-tipe orang yang gampang berpindah dan berbagi hati dan doyan selingkuh. Gue hampir tiap tahun merayakan Natal di rumah uwa gue. Keluarga gue semua kumpul dan kami makan bersama, begitu pula kalau Lebaran tiba. Apa itu berarti gue mengakui kalau hari Natal itu beneran ada dan keluarga uwa gue mengakui kalau Lebaran itu ada? Nope. Karena itu ga ada hubungannya sama sekali. Lo pun kalau punya pacar/suami/istri bukan berarti lo harus memutuskan hubungan lo dengan orang-orang lawan jenis lo kan? Atau um sesama jenis? Seperti yang gue bilang tadi, kecuali kalau lo tipe-tipe orang yang gampang berpindah dan berbagi hati dan doyan selingkuh. That would bring another effect kayanya. Jadi ya memang semuanya balik lagi ke individu nya masing-masing sih yah.. #antiklimaks #moron

Anyway, my point is, pada saat gue punya anak nanti, untuk masalah keyakinan gue akan menyerahkan semuanya ke anak gue. Tapi semoga sih dia bisa ngerasain kalau Tuhan itu ada yah. Kalau dia sampai ga bisa ngerasain, gue ga kebayang apa yang harus gue lakukan nantinya. Thinking that they'll live alone and left part of their heart empty, pasti sedih banget :/

Moronic Runaway #1

Oke. Ini one of the best part dari moronic-runaway saya ke Jogja beberapa waktu yang lalu.
Namanya Ullen Sentalu. Sebuah museum yang terletak di kawasan kaki gunung Merapi di Kaliurang entah di kilometer berapa saya lupa. Man, I never thought that visiting a museum would ever be that awesome! Meski perjalanan menuju kesana agak sedikit melelahkan karena lumayan jauh dari tempat kami seharusnya menginap, cranky mood saya perlahan hilang ketika tour dimulai. Setiap rombongan mendapatkan satu orang tour guide yang mengajak kita berkeliling museum lengkap dengan cerita-ceritanya. Di dalam museum tidak diperbolehkan mengambil foto, video, ataupun rekaman audio. Semuanya cuma boleh direkam oleh otak. Sebenarnya banyak cerita menarik yang didapat dari tour de museum itu, tapi karena kemampuan otak saya yang terbatas, jadilah begitu tour selesai, keluar dari museum wooosh hilang deh semua ceritanya. Hahaha.

(download)

Ada satu cerita menarik yang masih saya ingat, walaupun samar-samar.
Yaitu cerita tentang putri dari Mangkunegara VII dan Gusti Ratu Timur, yang merupakan putri dari Sultan Hamengku Bowono VII, yang bernama Gusti Nurul Kusuma Wardhani. Putri yang paling cantik, according to foto-foto yang ada di museum Ullen Sentalu :p

She's gorgeous, pintar menari, menunggang kuda, bermain tenis, dan um masih banyak sepertinya kelebihan beliau yang pada waktu mendengar ceritanya itu membuat saya terkagum-kagum. Again, blame my dory fish memory. Dan oh satu lagi, beliau ini agak-agak jenong gitu. Hal inilah yang membuat kepercayaan diri saya dan Aruna tiba-tiba naik menjadi level advance karena kami sama-sama #jenongunite hahaha. I know, not that related :P 

Gusti Nurul pernah diundang untuk menari di negeri Belanda atas undangan dari Ratu Wilhelmina untuk memeriahkan pernikahan putrinya, putri Juliana, dengan pangeran Bernard. Pada saat itu umurnya masih 15 tahun. Dan yang menariknya adalah, beliau menari tidak dengan diiringi langsung dengan gamelannya, melainkan melalui proses teleconference. Gila! Hahaha. Can you just believe that? On that era, around 1930-something, gamelan udah telekonferens sampe Belanda aja gitu.. 

Cerita lainnya yang menarik tentang beliau adalah tak lain tak bukan tentang kisah asmaranya. Menurut cerita mbak Ria, tour guide kami pada waktu itu, Gusti Nurul sempat jadi rebutan dua orang besar pada waktu itu, yaitu presiden Soekarno dan Sultan Hamengku Buwono IX. Tapi beliau tetep lurus lurus aja tuh dengan kedua orang itu. Beliau bertahan dengan prinsipnya yang menentang poligami dan tidak mau berhubungan dengan seseorang yang terjun di bidang politik. Pada akhirnya beliau malah jatuh hati dengan seorang perwira yang oh-fuck-I-forgot-what-his-name-was. Kata mbak Ria sih, sampai akhir hayatnya, bapak-yang-saya-lupa-namanya ini tetap mempertahankan pernikahannya dengan Gusti Nurul secara monogami. Dan oh satu lagi, Gusti Nurul ini sekarang tinggal di Bandung. And if I'm not mistaken, sekarang umurnya sudah mencapai sekitar um 91 tahun. Oh waw!

Di tengah-tengah tour, mbak Ria menawarkan kami beristirahat di suatu ruangan dan memberikan kami minuman yang katanya sih resepnya terdiri dari 7 bahan yang dirahasiakan hasil racikan dari Ratu Mas, ibu dari sinyo Bobby, um salah satu tokoh yang diceritakan mbak Ria di salah satu ruangan museum.

3

The tour was totally super fun! Karena museumnya benar-benar dijaga kerapihan, kebersihan, dan keeksotisannya. Ditambah dengan penyampaian cerita-cerita mbak Ria yang tidak membosankan, dan rela kami interupt dengan celetukan-celetukan ga penting dari saya dan Arun. One of the place that we highly recommend if you ever visit Jogja in some other time later.

Tournya memakan waktu hampir satu jam. Selesai tour itu sekitar jam setengah 5 sore. Begitu keluar museum, kami baru diberi kabar oleh penduduk sekitar bahwa angkot terakhir menuju ke Jogja sudah jalan jam 4 tadi. Ahgatdemsyit banget deh itu. Kesuraman bertambah ketika hujan mulai turun dan lebat pula. Berhubung judulnya adalah moronic-runaway, kami sudah mempersiapkan diri untuk terjadinya hal-hal seperti ini. Jadi kami sama sekali tidak panik. Bahkan cenderung pasrah haha. Jadilah kami duduk-duduk bodoh namun tetap gembira sambil menunggu hujan reda di salah satu beranda toko oleh-oleh tidak jauh dari museum tersebut. Disambi numpang nyolok charger, dan curhat sana-sini tentang kehidupan kami berdua #tsah ditemani dengan iringan playlist Arun yang pada saat itu memainkan lagu-lagu Slank. Ohwatdefak. Actually, I have done a lot of romantic things back there in Jogja. Sayangnya saya harus melewatkannya bersama Aruna. Mengapa oh mengapa~ :p

Dengan bantuan dari pemilik toko oleh-oleh, akhirnya kami mendapatkan tukang ojek dadakan. Dua orang mas-mas yang kebetulan mau turun ke arah Jogja. Setelah tawar-menawar yang cukup pelik dan sengit, akhirnya kami berangkat turun dengan hujan yang masih turun rintik-rintik. Melewati beberapa kali fase gerimis-hujan lebat-berhenti-gerimis-hujan lebat lagi-lalu gerimis lagi-kemudian benar benar berhenti, yang artinya kami melewati pula fase berhenti untuk memakai ponco-berhenti untuk membuka ponco-berhenti untuk memakai ponco kembali karena tiba tiba ujan lagi-sampai akhirnya berhenti untuk membuka ponco kali ini benar benar dibuka dan pasrah ujan-ujanan aja, akhirnya kami sampai juga di Malioboro. Saya yang pada saat itu memakai rok pendek merasakan sensasi yang luar biasa sepanjang perjalanan Kaliurang-Malioboro. Dinginnya sampe udah ga berasa lagi deh itu. Hahaha. 

Lucunya adalah, awal perjanjian kami hanya akan diantarkan ke suatu tampat namanya um Pakem? Pagem? Oh saya lupa namanya. Tapi yang jelas itu adalah terminal angkot terdekat dari Kaliurang, seharga 20 ribu. Tapi karena sampai sana angkot terakhir juga sudah jalan, kami meminta diantar ke daerah, aduh saya lupa lagi namanya, dengan tambahan 5000 rupiah. Terus di tengah jalan, dua mas-mas itu ngomong dalam bahasa Jawa yang kira-kira artinya mereka juga mau sekalian ke daerah tugu *hasil sotoy*. Jadilah mereka akhirnya menawarkan diri untuk mengantarkan kami sampai Malioboro, hanya dengan 30 ribu rupiah. Padahal awalnya mereka mematok harga 50 ribu untuk sampai ke Malioboro. Dianterin cari penginepan pula. Baiknya mas-mas itu. Oh satu lagi yang saya syukuri adalah, mas-mas yang memboncengi saya itu wangi parfumnya tidak anonoh! Haha. Kebayang kan kalau bau masnya ga enak sedangkan selama perjalanan Kaliurang-Malioboro saya harus kulukupan memakai ponco yang macamnya tenda itu, man bisa mati sebelum sampai Jogja deh itu kayanya. Alhamdu? Lillah~

Katanya Sih Ini Namanya Galau..

PRETTY PLEASE.

You could’ve fought a little bit more
I could’ve waited a little bit longer

You could’ve tried a little bit harder
I could’ve acted a little bit calmer

You could’ve listened to your heart 
I could’ve told you about my heart

You could’ve made things better 
I could’ve become someone better

We could’ve been together.

***

I would’ve been saved from my pessimist thoughts 
You would’ve been saved from loneliness

I would’ve held you closer 
You would’ve been happier

I would’ve made your days colorful 
You would’ve made my nights beautiful

I would’ve showed you how much I love you 
You would’ve realized how much I love you

We would’ve been together.

 

 

No. I didn't make those beautiful words.
Taken from my dearest friend's blogpost, si kecil-kecil cabe rawit, Trisca :)

And. Um. Got that? Yea. That.
:| 

Get a Holla!

Dari sisa runaway-trip minggu lalu.

Setelah selesai bertemu dengan Nuran, Mico, dan Yandri, sekitar jam 12 malam, saya dan Arun memutuskan untuk berjalan-jalan melihat kehidupan malam di Malioboro. Um, well it's already late, jadi yea yang masih hidup ya yang begitu begitu deh. Penginapan kami terletak di Jalan Dagen, dan pada jam-jam itu di sana sudah cukup sepi. Not very far from it, ada jalan Sastrowijan. Kebetulan ketika Nuran dan Yandri mengantar kami pulang, kami melewati jalan itu dan disana masih cukup hidup. Jadilah kami berjalan menyusuri jalan Sastrowijan, melewati pria-pria yang gemar bersiul, club-club yang cukup meriah, dan kami pun sampai di pojokan akhir jalan Sastrowijan. Ada sebuah club dengan homeband yang sayup-sayup terdengar memainkan musik reggae. Arun sangat menggemari musik reggae. Hal itu pula yang membuat saya tertarik ketika pertama kali mengenal Aruna. Tidak banyak orang yang saya kenal yang menggemari musik reggae seperti Arun. Setau saya yang suka musik reggae itu cuma orang-orang yang doyan giting hahaha. Anyway, melihat Arun memasang ekspresi berbinar ketika melewati club itu, saya pun langsung dengan senang hati menawarkan untuk mampir. Dan tentu saja Arun langsung mengiyakan dengan girang. Since we're not a beer-girl, kami cuma bisa duduk di pojokan, menikmati musiknya, sambil mengamati keadaan sekitar. Awal-awal cuma malu-malu duduk di beranda dan menikmati musiknya dari luar, tapi lama-lama ga asik juga cuma bisa denger dari luar gitu, dan kami pun memberanikan diri buat masuk ke dalam. It's a small club. With a lil stage in the front. And full of smoke of course. Di depan sudah berkerumun orang-orang yang menikmati iringan dari local band yang entah namanya apa. I'm not really sure that they're dancing because of they're enjoying the music, drunk because of alcohol, atau emang lagi hi abis giting, haha.

Local_reggae_club

Well it was quite dark in there, I couldn't tape any video with my crappy phone. So I record the audio instead.

 

To be perfectly honest, I never been in any club before. I'm not the kind of party-goers or whatever it called anyway. I kind a lil bit caught in um some awkward moments there. And I'm not an alcohol-kind-of-girl. I've tasted my Dad's before and I don't really like it, but I'm cool with that. Haha. So, yea, it was fun. Walaupun Arun ga sempet ikut joget-joget di depan karena ternyata kami datang pas lagu terakhir sebelum akhirnya band-break. (Entah break, entah clubnya mau tutup. Tapi masa tutup? Baru setengah 1an pula.. Macam apa?) 

Quite a night, eh? :)

 

 

PS: I'm posting my runaway-trip-story randomly, so, keep ya head up everyone!